Feeds:
Pos
Komentar

Bedah Buku

Bedah Catatan “Subsidi BBM buat (si) Apa? Menjelaskan kenaikan Premium & Solar oleh Kementerian Sekretariat Negara RI, Sekretariat Wakil Presiden” (Ipteks Unhas, 24/3/2012)

On RAI FM

Dialog “BBM & Kegalauan Remaja” di Radio Al Ikhwan 101,9 FM (Minggu (Jam 19), 1 April 2012)

Diskusi Perburuhan

Diskusi Perburuhan feat Pembebasan UMI MKS (PNUP MKS, Mei 2011)

Merambah Unifa

Gelaran Pustaka Baca Huruf Kecil di satu sudut aula kampus Unifa Makassar (02-07-2011)

Bedah Novel KEMI 

PB Huruf Kecil bedah Novel KEMI 1 Adian Husaini (Mabes PBHK, Juli 2011)

Nebeng Humaniora Expo

Hari Pertama Pustaka Baca “Huruf Kecil” Di Humaniora Expo!

(Kamis, 21/10/2010)

Tamarunang, Gowa pada satu pagi yang cerah di hari libur nasional tepatnya Kamis, tanggal 13 Mei 2010. Tidak jauh dari batang sungai Jeneberang. Belasan anak-anak antara 8 hingga 14 tahun sedang main bola di depan rumah kami. Rumah kami bersebelahan dengan rumah Haris Rasyid, staf pada Kantor Infokom Gowa dan mantan ketua RW 06, lingkungan kami.

Beberapa anak lainnya menonton kawannya yang main bola, ada yang main dengan mengenakan sandal, ada pula yang telanjang kaki di atas aspal jalan kompleks yang mulai mengelupas. Saya ikut bergabung di sisi jalan. Tangan kanan saya masih bengkak seusai kecelakaan di Parang Tambung sehari sebelumnya. Lanjut Baca »

Mulai Membaca (Lagi)

Masa depan adalah bagi mereka yang membaca. Begitu orang bijak bilang. Aktivitas membaca adalah aktivitas tertua manusia baik membaca dalam konteks peradaban manusia yang sifatnya literatif ataupun aktivitas “membaca” kondisi lingkungannya. Memperhatikan segala fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita.

Membaca adalah proses mencerna pesan yang bagi kami hasil akhirnya harus membuat kita tergelitik untuk memperhatikan sekeliling kita. Membaca sistem dan model ‘kepatuhan-kepatuhan’ yang di bangun selama ini dan dijejalkan secara membabi buta. Intinya membaca tidak sekedar melahap buku, tapi mampu menggerakkan!

Ah, sudahlah… otak kami terlalu pendek, pemahaman kami cuma sampe di situ. Oh iya, kemarin sebenarnya kalo saja tidak hujan deras kami bermaksud mo gelaran lagi… Namun pun begitu, kami sedikit terobati dengan donasi buku dari Mbak Saidah di seberang sana, dari Bogor. Ada juga beberapa yang mengunjungi rumah reot kami pustaka huruf kecil untuk menyerahkan donasi buku, dari Fitri dkk mahasiswi Unhas. Trima kasih banyak tuan nyonya mudah-mudahan dimudahkan rezekinya…

Hampir lupa, kami mohon maaf bagi kalian yang pernah mengenal gelaran jalanan ini. Beberapa saat kami tak muncul. Percayalah itu bukan masa rehat, tapi waktu bagi kami untuk kembali lagi dan tak kapok! Ayo mulai membaca (lagi!). [Ending]

Suara angin bertarung sengit dengan deburan ombak
Dalam keceriaan pagi, kicauan burung menyapa begitu ramah
Lima pasang anak lelaki saling berlempar pasir

Maaf saja, kami bukan laskar pelangi
Apalagi kawanan Power Ranger di tivi-tivi
kami hanyalah bocah pesisir
Sehari-hari meniti pantai,
membelah lautan dengan perahu yang bocornya bisa dihitung jari

kala seragam terikat pada seutas tali, buku tulis tak jua mau berpisah dengan pensil
berharap laut masih menjadi kawan petualangan
bersama kami mengayuh ombak meliuk

hari ini kami kembali bermimpi
tentang kemapanan yang sulit terbayangkan
tentang harapan akan janji yang tak kunjung terbukti
dan tentang omong kosong yang terlanjur di percayai

apa hendak terucap jika perahu telah sekarat
di dahan pohon bakau kami gantungkan harapan
kekuatan lengan menjadi tumpuan
semoga saja hitam belum menyelimuti bumi
dan semoga saja…ajal belum mau menjemput kami

silahkan kau jejaki berita tentang kami
dengan gelak tawamu di ruang tengah
ataukah bersama perasaan haru yang nyatanya hanya sesaat
asalkan jangan kau lupa pesan suci dari kami
dari kami untuk penguasa negeri
sebab lewat lisanmu lah, kami berharap
biar kesenangan tidak hanya di gedung menjulang
tapi juga disini…
di perahu kehidupan ini…

– Roy Ito –

Ngelantur

“Pagi yang indah”, kata Syamsuddin, murid SD negri 1924.
“Syam cepat berangkat hari sudah siang, kamu ingat’ji toh, hari ini hari senin kamukan upacara bendera”, kata daeng Te’ne, ibunda Syam.
Bete upacara bendera ka’ya tidak ada kerjaan saja, jawaban Syam dalam hati.
Dengan sepeda butut, Syam berangkat kesekolah yang jaraknya kira-kira 1 kilometer .

Teng, teng, teng, Bel sekolah berbunyi,
Setelah upacara bendera yang menurut syam kerjaan
tolol, Anak-anak masuk ruang kelas masing-masing. Syam dan
teman2nya masuk keruangan kelas IV yang atapnya sudah
pada…………(Tanya Mendiknas).

IBU guru TUTI masuk ruang kelas dan disambut dengan
ucapan “SELAMAT PAGI IBU GURU”. “Selamat pagi anak-anak”,
jawab Bu Tuti. “Hari ini kita belajar PPKN, tapi sebelum
itu ibu guru mau tanya kalian satu persatu”. Lanjut Baca »